Ekspedisi ke Tabuk

Ekspedisi melawan Kekaisaran Bizantium, yang kekuatan dan kemegahannya diketahui oleh orang Arab, sebenarnya berarti bahwa Muslim sekarang siap untuk menantang kekuatan terbesar saat itu. Apa yang dihargai orang Arab terhadap orang Romawi diilustrasikan dengan baik oleh ucapan yang dibuat oleh Abu Sufyan setelah dia melihat Heraclius menghormati surat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang dikirimkan kepadanya. Abu Sufyan kemudian menyadari bahwa perselingkuhan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah menjadi begitu besar sehingga raja Romawi membuatnya takut. Abu Sufyan menceritakan bahwa dia kemudian yakin bahwa Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam pada akhirnya akan muncul sebagai pemenang dan begitulah Islam mengakar di dalam hatinya. (1)

Bendera Bizantium sedang berkibar tinggi pada saat itu. Pasukannya, di bawah Heraclius, telah memberikan pukulan yang mematikan bagi pasukan Persia. Hampir dua tahun telah berlalu setelah kemenangan yang luar biasa ini ketika Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam memimpin pasukan untuk menghadapinya. Usaha berani Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam membuat kesan yang mendalam di benak orang Arab bahwa ekspedisi Pelajaran Perang Tabuk benar-benar berfungsi sebagai awal penaklukan Suriah pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar Radhi Allahu Anhuma.

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ingin memperingatkan Bizantium bahwa mereka tidak boleh menganggap Muslim lemah dan mengambil tindakan apa pun yang melanggar kedaulatan teritorial mereka. Tujuan ini lebih dari yang dicapai karena kemudian ditanggung oleh konsekuensi ekspedisi yang luas.

Pertempuran Muta masih segar di benak Bizantium yang telah gagal merendahkan tentara Muslim meskipun jumlah mereka jauh lebih unggul. Kaum Muslim, sebaliknya, setelah mengukur pedang dengan mereka telah mengatasi rasa takut mereka terhadap pasukan Romawi yang tak tertembus.

Suku-suku Kristen pro-Bizantium di Arabia utara terkesan dengan konfrontasi pertama ini. Ekspedisi ini juga berhasil membawa pulang kenyataan bahwa kebangkitan Islam bukanlah fase yang berlalu seperti yang dipikirkan sebagian orang Arab. Islam kokoh seperti batu karang dan memiliki masa depan yang cerah di depannya.

Waktu Ekspedisi

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menerima laporan tentang pasukan Bizantium yang berkumpul di perbatasan utara Arab dengan tujuan melancarkan serangan terhadap Muslim. Dia memerintahkan umat Islam untuk bersiap. Kampanye Tabuk dilakukan pada bulan Rajab 9 H. Saat itu panenan kurma telah matang dan naungan pohon menyenangkan. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam melakukan perjalanan jauh dan melintasi gurun dan dataran gersang untuk menghadapi musuh yang jauh lebih banyak jumlahnya. Saat kaum Muslimin melewati masa kemarau panjang,

Pelajaran untuk Dipelajari

Pertempuran ini sekali lagi membuktikan bahwa perang dalam Islam bukanlah untuk motif pribadi, kemarahan, kedengkian, penaklukan atau untuk menunjukkan kekuasaan. Perang adalah untuk melindungi tanah dan agama, untuk memperingatkan para pelanggar dan untuk menghentikan kejahatan dan korupsi di bumi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *